Arsip

Bertanya, Kecakapan Mendidik Di Abad 21

Misalkan sebuah toko memberikan diskon 17%, tetapi pembeli harus membayar pajak 15%. Saat kita berbelanja di toko itu dan boleh mengatur, kita ingin diskon atau pajak yang dihitung dahulu? Kita sebagai pembeli lebih untung jika dipajak dahulu baru didiskon, atau sebaliknya didiskon dahulu baru dipajak?

Melalui pertanyaan itu, pendidik menggiring dan merancang kerangka pembelajaran. Kemudian, melalui pertanyaan itu, pendidik memicu diskursus dan merawat budaya bernalar menuju pemahaman yang mendalam. Kecakapan mendidik melalui bertanya ini yang merupakan bekal utama guru dan orangtua di abad 21.

Di pengajaran yang tak berpusat pada anak, jika akan menjelaskan bagaimana mengalikan dua bilangan 26 x 43, maka langsung saja guru atau orangtua menitahkan prosedur mengalikan dua bilangan tersebut, sesuai dengan cara yang diajarkan oleh gurunya terdahulu. Anak harus mematuhi dan menuruti langkah demi langkah. Apa yang dikatakan guru dan orangtua dianggap sudah yang paling baik dan sempurna. Tak dipikirkan ada kemungkinan anak atau murid kita dapat menemukan cara mengalikan yang lebih cerdas. Cara mengajar di sekolah atau di rumah dengan cara ini memang terjadi dan kita kebanyakan hasil dari metode tersebut. Namun, ada cara lain mendidik, bukan dengan perintah atau pemaksaan, tetapi menggunakan cara bertanya.

Bukankah justru lebih cerdas jika anak kita menemukan sendiri cara mengalikan bilangan? Bukankah anak kita akan jauh lebih memahami sekaligus ingat pada algoritma perkalian jika menemukan atau membangunnya sendiri? Pengetahuan ilmiah seperti matematika bukanlah benda mati. Algoritma atau rumus di matematika perlu dikembangkan terus. Yang ada belum tentu yang terbaik.

Sekarang, tidak semua pertanyaan dapat digunakan untuk mengajar. Pertanyaan untuk menguji kemampuan sangat berbeda dengan pertanyaan untuk mendidik anak. Pertanyaan yang baik dalam mendidik mempunyai beberapa ciri.

Pertama, pertanyaan baik akan mengganggu kesetimbangan pemahaman. Pertanyaan baik akan menyadarkan bahwa masih ada miskonsepsi atau kekeliruan konsep yang kita percayai. Kesetimbangan kepercayaan kita pada pengetahuan yang kita tadinya sudah yakini akan terganggu oleh pertanyaan yang dirumuskan dengan baik. Pertanyaan baik sekaligus menegur sikap “merasa sok tahu” kita. Pertanyaan baik harus mampu menegur ketakaburan dan rutinitas manusia.

Piaget mengistilahkan keadaan saat manusia menyadari miskonsepsi sekaligus meragukan pengetahuan sebelumnya tersebut sebagai disequilibrium atau ketaksetimbangan. Dari ketaksetimbangan ini sesungguhnya belajar baru dapat efektif dan bermakna. Pada situasi tak setimbang ini, benak dan diri manusia akan haus sekaligus siap untuk membangun pemahaman baru.

Peluang proses penyetimbangan baru akan terbuka saat ada ketaksetimbangan. Dan, selanjutnya akan dapat dicapai taraf kesetimbangan pemahaman yang jauh lebih kokoh. Bukankah ciri seorang benar-benar paham sebuah konsep jika orang tersebut sudah menjelajah dan menyadari berbagai miskonsepsi yang mungkin terjadi?

Dibanding learning dan relearning, memang unlearning paling sulit. Mungkin manusia cenderung lebih meyakini pengetahuan yang pertama diserap, ketimbang menerima pengetahuan baru, apalagi yang acap berbeda atau bahkan bertolak-belakang dengan pengetahuan yang diyakini sebelumnya. Dan, agar unlearning ini berhasil perlu dibuat keadaan tak setimbang yang dipicu pertanyaan.

Oleh karenanya, program penyiapan guru dan orangtua perlu memberlatihkan kecakapan bertanya. Senjata dahsyat guru dan orangtua di masa kini hanyalah bertanya dan mendengar. Keahlian berceramah dan memerintah menjadi tak begitu utama lagi. Ceramah atau kotbah satu-arah sudah tak menarik lagi bagi generasi digital.

Peran pertanyaan bukan saja untuk menggiring pembangunan pemahaman, tetapi juga untuk mengoreksi anak yang mungkin keliru memahami sesuatu. Guru dan orangtua yang baik harus cakap merancang dan mengajukan rangkaian pertanyaan, agar anak sendiri menyadari bahwa dirinya keliru. Bukan dari mulut guru atau orangtua seharusnya yang menyatakan seorang anak keliru.

Misalnya, pada pertanyaan di awal esai ini, jika seorang siswa atau anak kita berpendapat bahwa menghitung pajak dahulu akan membuat diskon lebih besar, apa reaksi kita? Tentunya memang wajar intuisi kita berpendapat seperti itu. Walau ternyata tak benar. Justru di sini seni mengajar tersebut. Memanfaatkan pertanyaan untuk menuntun anak menemukan pemahaman.

Mengatakan, “Kamu salah!” pada anak tentu sangat mudah. Namun, apakah itu pendekatan yang berpusat pada anak? Betul bahwa guru dan orangtua harus mengoreksi, tetapi apakah caranya hanya dengan menghakimi seperti itu?

Satu alternatif pendekatan untuk mengoreksi anak yang salah tadi misalnya menggiring dengan pertanyaan: “Jika barang yang dibeli Rp 100, dengan cara membayar pajak dahulu, berapa yang harus kamu bayar?” Lalu, dapat dilanjutkan dengan pertanyaan susulan, “Sekarang, berapa yang harus kamu bayar jika diskonnya dihitung dahulu?” Dari situ, anak akan menyadari kekeliruannya sendiri dan anak menjadi memahami konsep yang lebih mendalam lagi. Anak akan ingat dan tanpa merasa dipermalukan atau dihina dianggap bodoh.

Kecakapan anak kita di kehidupan nyata nanti untuk menyadari dan mengakui kekeliruan demi menuju pemahaman yang lebih baik merupakan bekal pokok. Kata “keliru” idealnya tak keluar dari mulut pendidik, seperti guru atau orangtua.

Agar tercapai kesadaran itu, jika anak menjawab benar, guru/ortu perlu bertanya lagi, “Dari mana kamu dapat itu?” atau “Mengapa kamu yakin benar?” Sedang anak sendiri sebelum mengungkapkan jawabnya ke orang lain perlu bertanya ke diri sendiri terlebih dahulu, “Apakah jawaban ini masuk akal?” atau “Adakah cara lain untuk menemukan jawabnya?” Kebiasaan bertanya ke diri sendiri dan orang lain harus menjadi norma setiap warga di kelas dan anggota keluarga di rumah. Mendidik anak di era sekarang kita perlu cakap bertanya.

Jika anak menjawab benar, juga tak perlu memuji, apalagi dengan cara berlebihan, seperti: “Hebat!” atau “Luar biasa!” Menurut Teori Otak, idealnya memuji anak itu juga tak perlu, karena kepuasan paling mendasar dan berkesan justru yang dihasilkan diri sendiri. Murid sendiri yang harus merasa puas dengan jawabannya.

Jika murid sendiri yang meyakini bahwa jawabnya benar, karena berdasar nalarnya, ini akan memberi kepuasan tak ternilai bagi anak. Perasaan berguna, bernilai, dan berdaya dapat tumbuh pada anak di situasi seperti ini. Kepuasan menemukan jawab benar itu sudah merupakan kenikmatan tak ternilai, tak perlu dicemari oleh pujian eksternal atau artifisial dari kita, apalagi yang berlebihan dan tak sesuai kenyataan.

Reaksi guru yang netral seperti, “Terima kasih sudah mencoba menjawab,” sudahlah cukup. Fungsi pertanyaan dalam pembelajaran untuk melibatkan anak, bukan untuk menghakimi. Pertanyaan bukan untuk menentukan anak kita pandai atau bodoh. Maka, jika seorang anak sudah menjawab pertanyaan kita, itu sudah berhasil karena anak tersebut sudah terlibat. Khususnya, jika reluctant learner atau anak yang biasanya enggan aktif belajar tetapi telah mencoba menjawab, maka itu sudah keberhasilan pendidik. Berterima kasihlah pada anak tersebut. Bukan menghakimi jawabnya. Memperbaiki pemahamannya ada kesempatan lain.

Dengan memanfaatkan rangkaian pertanyaan, guru dan orangtua dapat menggiring proses pembelajaran dan anak menjadi subjek dalam keutuhan proses sosial belajar-mengajar tersebut. Sekarang tak begitu populer pendidik mendominasi dengan berceramah.

Cukup bertanya, mendengar, dengan tetap menunjukkan kepedulian, itulah mendidik di kehidupan masa kini. Guru dan orangtua keren dengan kecakapan dan sikap bersahaja seperti itu yang sesuai untuk merawat anak penghuni dunia tanpa batas di masa depan.

Lalu, siapkah guru berlatih teknik bertanya untuk mendidik? Maukah kita orangtua berlatih mendidik melalui bertanya? ***

–Iwan Pranoto
Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi. Sebelumnya, ia adalah guru besar Matematika di Institut Teknologi Bandung.
Tulisan ini adalah opini pribadi dan tidak mewakili lembaga.

sumber:
http://www.bincangedukasi.com/bertanya-kecakapan-mendidik-…/

1623704_737273269718417_3515671920297375814_n

Iklan

Dear Parents; Jangan Katakan ” Ibu/ Ayah Tidak Bisa Menggambar “

Banyak orang tua yang menganggap membaca dan menulis sangat penting untuk anak, hingga mendaftarkan anak-anaknya ke kursus membaca dan menulis bahkan sebelum usia 5 tahun.
Tetapi sebenarnya ada aktivitas yang tak kalah penting dibanding membaca dan menulis, yaitu menggambar.
Ya, menggambar dan mewarnai sebenarnya adalah “ketrampilan” dasar anak dan sangat mereka sukai. Menggambar dan mewarnai pun punya manfaat besar bagi perkembangan anak.

Menggambar menumbuhkan keterampilan dan kepercayaan diri yang kreatif pada anak-anak.
Ada banyak aspek yang masuk ke dalam kemampuan menggambar. Kepercayaan diri adalah salah satunya.
Percaya bahwa Anda dapat menggambar serta menikmati aktivitas menggambar adalah hal yang sama pentingnya, bahkan LEBIH penting – dari teknik menggambar.

Pertama dan paling penting saran saya adalah untuk membantu anak Anda percaya pada dirinya (dalam seni khususnya, tetapi juga dalam dirinya secara umum) dan dan menikmati seni.

Bagaimana caranya? Berikut beberapa saran yang dapat Anda coba:

1. Jangan pernah merendahkan diri atau kemampuan menggambar Anda sendiri.

Apapun yang anda pikirkan tentang gambar anda, tunjukkan pada anak bahwa Anda memiliki kepercayaan diri dan percaya dirilah dengan kemampuan Anda.

Jika Anda duduk dan menggambar dan mencoret-coret di sampingnya (dan saya pikir Anda harus melakukannya sekali-sekali!), Jangan katakan, “Ibu/Ayah tidak bisa menggambar.”
Jika Anda tidak merasa bahwa anda dapat menggambar gajah dengan baik dan terlihat nyata, tidak apa-apa!
Atau, anda bisa menggambar gajah abstrak dalam warna-warna cerah. Atau hanya menggambar abstrak, itu cukup. Gambar Kotak , lingkaran, spiral,bunga, tanda pagar, huruf, dan apa pun yang Anda pikirkan. Nikmati proses itu. Terus gerakkan pensil Anda. Tapi jangan mengucapkan kata-kata, ” tidak bisa menggambar” di depan anak Anda. Anak-anak belajar lewat contoh.

2. Sadarlah tentang bagaimana Anda berbicara dengan anak Anda tentang gambar yang ia buat.

Jangan hanya mengatakan, “itu cukup bagus,” tapi berbicara tentang tanda yang iadia buat pada halaman atau warna yang ia gunakan atau mengatakan, “Wow! Kau benar-benar teliti membuatnya! ”
Biasanya saya meminta anak-anak untuk bercerita tentang karya seni mereka. Jika anak Anda alebih muda dari tiga tahun, dia mungkin belum bisa mengartikan apa yang ia gambar (sekali lagi “mungkin”), tapi saat ia semakin dekat ke umur empat, dia kemungkinan akan lmenggambar ebih banyak dan lebih rumit dengan cerita tentang karyanya.

3. Membuat seni menyenangkan dan bereksplorasi.

Di usia ini, utamakan tentang proses karya seni anak anda. Cobalah untuk tidak mengharapkan hasil tertentu melainkan mendorong dia untuk mengeksplorasi bahan-bahan seni (cat, krayon, pensil warna, spidol, dll), ide (besar / kecil, tema dari hidupnya, warna kontras), dan teknik (mencipratkan cat, melukis dengan jari, stempel, dll) dengan caranya sendiri. Memperkenalkan bahan baru dan teknik, tetapi juga membiarkan dia mengeksplorasi seni sendiri dengan caranya sendiri.

Selain memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi selama proyek yang Anda tetapkan baginya,coba untuk memiliki beberapa bahan-bahan seni yang dapat ia gunakan kapanpun dia suka. Bisa menyediakan satu kotak/ ruangan khusus dengan berbagai kuas, cat air, spons, cetakan, dll yang dapat ia pakai tanpa bantuan anda.

4. Jaga agar kegiatan seni anak anda sesuai untuk usianya dan tahap perkembangan.

Saya tidak berpikir untuk mengajar anak “cara menggambar” yang teratur pada usia tiga tahun. Anda dapat membimbingnya melalui sesekali latihan menggambar jika Anda suka. Tapi yang paling penting pada usia ini adalah untuk mendorong eksplorasi terbuka dari bahan-bahan seni, kepercayaan diri, dan kenikmatan dalam seni dan belajar.
Biarkan dia berjalan melalui tahap-tahap perkembangan yang normal dalam menggambar dan seni dengan kecepatannya sendiri.

Jika, ketika dia di umur yang lebih besar, dia mengungkapkan minat dalam menggambar dengan cara tertentu atau belajar teknik menggambar, Anda dapat mempertimbangkan kelas menggambar, atau buku untuknya. Tapi sebaiknya tidak melakukan itu di usia yang terlalu muda.

By the way, untuk menjaga proses eksplorasi seni dan usia yang tepat, saya akan menyarankan Anda untuk menghindari buku mewarnai dan worksheet menghubungkan titik-titik sebanyak mungkin.
Penekanan mereka pada gambar dari menghubungkan titik dan mewarnai di dalam garis tidak membantu untuk perkembangan kreativitasnya.
Anda tidak perlu menjadi terlalu ketat tentang hal itu, (anak saya mendapatkan buku mewarnai dan buku ativitas menggambar dari kado ulang tahunnya) tetapi anda tidak perlu membuat buku mewarnai bagian rutin dari kehidupan seni anak anda.

Bagaimana soal pelajaran seni dan kelas seni untuk anak-anak?
Saya mengatakan bahwa saya tidak menyarankan Anda untuk mengirim anak 3 tahun ikut kelas seni untuk belajar “cara menggambar.” Namun, kelas seni untuk anak-anak mungkin ide yang baik untuk alasan lainnya.

+.Kelas seni mungkin memberikan anak ide-ide dan petunjuk untuk kegiatan seni yang lebih dalam daripada di rumah..

+. Kelas seni dapat mengekspos anak Anda untuk bahan-bahan dan teknik seni.

+.Anda dan anak Anda mungkin menikmati aspek sosial dari kelas seni.

+. Kelas seni mungkin memberikan pengalaman seni yang lebih “berantakan” yang tidak ingin anda coba di rumah.

Jika Anda ingin mencoba kelas seni dengan anak-anak Anda, saya akan menyarankan mencari satu yang difokuskan pada usia yang tepat,kelas seni yang berorientasi pada proses daripada hasil.

Apakah Anda ingin meningkatkan keterampilan menggambar Anda sendiri?

Jika Anda ingin belajar cara menggambar lebih baik atau lebih percaya diri, pertimbangkan untuk mengambil kursus menggambar, yang berorientasi pada semua tingkat kemampuan menggambar.

Untuk penutup, saran saya adalah untuk fokus pada proses seni dan eksplorasi untuk anak anda, membangun rasa percaya dirinya, menjaga kesan bahwa seni menyenangkan, dan tidak pernah membiarkan dia mendengar Anda berkata, “Saya tidak bisa menggambar.”
Jika Anda ingin memilih kelas seni untuk anak Anda, pastikan anda memilih itu untuk alasan yang benar dan pastikan kelas itu sesuai untuk usianya dan tahap perkembangan nya.

Selamat bereksplorasi dengan buah hati anda!

referensi:
http://artfulparent.com/…/how-to-encourage-drawing-skills-c…

10407784_741707085941702_7414602110264067712_n

Predator Online Mengintai Anak Kita Di Media Sosial

Beberapa hari lalu, salah seorang tim kami mendapat sebuah tautan di Facebook, isi tautan tersebut adalah beberapa screenshot percakapan via online massanger seorang anak perempuan dengan akun yang diduga predator online.
Akun tersebut mengaku seorang pencari bakat dari agensi model (nama dan foto profil yang digunakan perempuan) dan mengajak si anak untuk jadi model.
Saat si anak bilang sedang ingin berpikir dahulu , akun tersebut terus mendesak, meminta data berupa nama, berat& tinggi badan, lingkar dada. Saat tidak disanggupi (anak beralasan sudah malam dan mau tidur), akun predator meminta foto selfie anak dengan mengenakan bra saja.
Dan saat tidak disetujui, akun ini mengeluarkan kata-kata kasar.
Mengerikan sekali bukan?

Memang dengan semakin berkembangnya kemajuan teknologi dengan berbagai media sosial menjadikan anak-anak kita rentan terhadap ancaman dari predator seksual online.
Orang-orang jahat yang mengincar anak-anak dan remaja untuk dijebak dalam pornografi anak serta bukan tidak mungkin penculikan.
Modusnya bisa macam-macam. Bisa mengunakan foto cowok remaja yang ganteng lalu mengajak berkenalan via media sosial, bisa juga seperti yang diceritakan di atas, berpura-pura jadi agensi model/ casting film. Hal yang seringkali jadi impian banyak remaja perempuan.
Lalu bagaimana cara orang tua menghindarkan anak dari bahaya predator seksual online?

Langkah 1

Pilihlah penyedia layanan internet (ISP) yang menawarkan parental control. Banyak ISP yang menanamkan kontrol ini yang bisa diakses oleh orang tua. Pakailah dengan baik untuk memblokir situs-situs dewasa yang tak sepantasnya diakses anak-anak.

Langkah 2

Pastikan ada pengawasan dari orang dewasa ketika ia mengakses internet di wilayah publik seperti sekolah atau perpustakaan. Bicaralah pada pihak sekolah atau petugas perpustakaan untuk selalu melakukan pemonitoran ini, atau setidaknya mereka telah menginstal piranti keamanan untuk menjaga keamanan si anak.

Langkah 3

Buat peraturan dalam hal keamanan berinternet, seperti jangan pernah memberikan informasi pribadi termasuk alamat rumah, nomer telepon atau informasi sekolah. Jika teman yang ia kenal di online mengajaknya bertemu, jangan ijinkan kecuali ia setuju untuk bertemu di tempat umum dan ditemani orang terpercaya. Anak Anda juga harus tahu bahwa membalas pesan yang bernada negatif atau terlihat anek sebaiknya tidak dilakukan. Katakan juga pada mereka untuk tidak menshare foto di internet tanpa seijin Anda.

Langkah 4

Usahakan Anda memiliki password akun-akun onlinenya, khususnya bagi anak-anak yang belum cukup umur, entah itu di email atau situs-situs jejaring. Dengan mengetahui kata sandi mereka, Anda bisa mengecek isi email dan pesan-pesan di dalamnya. Akan tetapi sebelum melakukan hal itu, bicarakan baik-baik dengan anak-anak agar mereka tidak merasa dikekang dan terganggu. Rutin membuka profile mereka dan memastikan tak ada pesan buruk di dalamnya juga dianjurkan untuk dilakukan.

Langkah 5

Dokumentasikan pesan yang berisi ancaman atau konten tak senonoh yang ditujukan pada anak Anda. Berikan dokumentasi ini pada penyedia layanan internet Anda agar mereka bisa melacak identitas pengirimnya, sebuah hal yang kecil kemungkinan bisa Anda lakukan sendiri. Jangan ragu-ragu juga untuk melaporkan ke pihak berwajib jika Anda menjumpai pornografi anak. Hal ini akan membantu pihak kepolisian untuk menyingkap predator anak sebelum ada korban-korban selanjutnya.

Dan satu hal yang paling penting, sebagai orang tua usahakan untuk mengikuti perkembangan media sosial yang digunakan anak. Seringkali yang terjadi, anak menjadi korban predator online karena orang tua tidak paham cara menggunakan media sosial, sehingga tidak bisa memantau aktivitas online anak.
Jadi, waspadalah selalu, lindungi anak-anak kita dari predator online. Salam internet sehat.

*Gambar adalah infografis tentang bagaimana para predator ini menjebak mangsanya

referensi:
https://www.facebook.com/notes/internet-sehat/5-langkah-tepat-lindungi-anak-dari-predator-online/10150248657964009

http://us.images.detik.com/…/anak-anak_VS_Predator_Infograf…

11111794_744224409023303_6306177551683232173_n

Usia Masuk SD Dan Pengaruhnya

Orang tua mungkin bangga kalau anaknya bisa masuk SD dalam usia yang lebih muda dari teman-temannya. Buat mereka, itu menunjukkan kalau anak mereka lebih pintar dari anak sebayanya. Tapi benarkah demikian?

Saya adalah salah satu contoh kasus sekolah kemudaan. Cuma gara-gara saya bongsor, saya dimasukkan SD ketika umur saya masih 5 tahun. Guru SD tersebut belum membolehkan, tapi Ibu saya memaksa. Alhasil, jadilah saya selalu lebih muda dari teman sebaya saya. Karena di jaman saya kecil masih kental dengan sopan santun, teman sekelas saya di SD kebanyakan memanggil saya dengan ‘dik’ dan saya memanggil mereka dengan ‘mbak’.

Tidak ada masalah berarti dalam pelajaran yang saya alami. Sampai lulus SD, andai waktu itu ranking sudah dicetak dengan jelas, saya pasti ranking satu atau dua. Di SMP juga tidak ada masalah. Saya termasuk anak pintar. Begitu juga di SMA, saya masih termasuk lima besar.

Tapi di SMA ini masalah mulai terasa. Pada mapel ilmu pasti (Fisika, Kimia, Matematika), saya keteteran. Tidak cuma tidak mampu mendapat nilai baik, tapi juga seolah saya ‘stuck’. Dijelaskan seperti apapun tidak bisa paham. Sampai teman saya saja kesal. Saya mulai tidak fokus. Selain itu ada masalah emosional yang tidak mampu saya jelaskan, apalagi saya atasi. Ada kegelisahan yang aneh. Selalu merasa kacau balau. Tahu-tahu senang, tahu-tahu sedih tanpa alasan.

Ketika kuliah, adik saya bercerita tentang temannya yang tahu-tahu menikah. Anak itu cantik, pintar dan karena supel teman-temannya banyak. Anak itu termasuk mahasiswi yang populer di jurusannya. Sayangnya seringkali sikapnya tidak terkendali. Kadang-kadang meledak-ledak, di saat lain dia begitu baik. Begitu banyak pemberontakan yang dia lakukan. Pada suatu ketika dia hamil dan terpaksa menikah.

Komentar dia menohok sekali. “Kalo sekolahnya kemudaan kan kaya gitu itu jadinya.”

Demi mendengar kalimat itu seolah semua pertanyaan saya terjawab. Itulah kenapa saya selalu tidak maksimal. Jauh dibandingkan adik saya yang sekolah ketuaan; dia lebih tua beberapa bulan dari teman-temannya karena dia lahir di akhir tahun. Kebetulan karena faktor situasi keluarga yang baru saja pindah ke kompleks baru, dia masuk TK agak telat. Kalo saya masuk SD 5 tahun, dia masuk SD sekitar 6,6 tahun. Dia lebih siap masuk sekolah.

Sepanjang sekolah dia anak pintar. Bahkan yang saya heran, Fisika yang jadi mapel yang begitu susah saya pahami, dia jagoan. Di bidang apa saja dia mumpuni. Saya tidak iri, tapi heran. Kenapa bisa begitu. Sepertinya komentar dia yang asal itu menjadi jawaban tuntas buat saya.

Ketika saya punya anak, Dila, terpaksa saya masukkan TK karena ngeyel ingin masuk TK pada umur 3 tahun. Dia pandai dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik, juga mampu bersosialisasi. Karena bakal kemudaan kalau saya ikuti dua tahun di TK lalu masuk SD, setelah setahun di TK itu, dia saya pindahkan ke TK lain mengulang dari TK A lagi. Total dia 3 tahun di TK. Ketika masuk SD usianya 6,4 tahun. Sudah memenuhi persyaratan masuk SD negeri. SD, SMP dan SMA dia lalui dengan baik. Meski bukan terbaik di kelas, tapi dia cukup enjoy dan stabil secara emosi.

Di TK pertama tadi, ada temannya yang usianya juga 3 tahun. Setelah sekolah di TK itu 2 tahun, anak itu disekolahkan ke SD. Keluarganya bangga karena anak itu bisa menguasai pelajaran dengan baik di SD meski kemudaan. Sayang ketika masuk SMP prestasinya menurun. SMP dan SMA dia masuk sekolah swasta karena nilainya kurang baik. Baru kuliah beberapa bulan dia dinikahkan karena hamil. Memang ada masalah keluarga yang cukup berat yang dia alami, sehingga saya pikir hal terakhir ini tidak bisa menjadi akibat umum yang terjadi pada anak yang sekolah kemudaan. Namun sekolah kemudaan memang memberikan masalah dalam kontrol emosi. Si bungsu masuk SD di usia yang lebih tua dari kakaknya karena dia lahir bulan Januari.

Anak teman saya, juga disekolahkan kemudaan. Awalnya anak itu bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi nyatanya kemudian bermasalah hingga tidak bisa naik kelas. Masalah-masalah pada anak yang saya ketahui, sering kali memang berhubungan dengan perihal umur berapa dia masuk SD. Nyatanya memang anak-anak yang sekolah kemudaan ini cenderung mengalami masalah di kemudian hari.

Orang tua boleh bangga kalau putra putrinya bisa masuk SD dan nyatanya bisa mengikut pelajaran dengan baik. Tapi sebenarnya kesiapan anak untuk sekolah bukan hanya masalah ‘bisa tidaknya mengikuti materi di sekolah’. Kesiapan emosi anak-anak harus juga ditata dengan sedemikian rupa. Bagaimanapun semakin matang usianya, semakin dia siap untuk menghadapi pergaulan dengan teman-temannya.

Kalau jaman saya dulu sekolah, kemudaan masuk SD masih tidak menjadi masalah besar, buktinya saya bisa ‘selamat sampai tujuan’. Lulus SMA, masuk Universitas Negeri lalu bekerja. Tidak ada pergolakan yang berarti. Tapi perlu diingat bahwa kurikulum waktu itu masih sangat manusiawi.

Kalau sekarang saya mendampingi si bungsu belajar, saya bisa terkaget-kaget. Matematika yang saya pelajari di SMP sudah dia kenal di kelas 3 SD. Beban kurikulum saat ini begitu berat. Untuk anak yang belum benar-benar siap pasti akan sangat keteter. Memang ketinggalan ini belum tampak di kelas satu atau dua SD karena di kelas itu materi masih mudah. Tapi setelahnya, sudah sangat berat. Maka tak heran kalau kesulitan belajar biasanya akan terjadi di kelas-kelas setelahnya. Kondisi paling parah akan terjadi di SMA nanti. Sebuah masalah besar menunggu di kemudian hari dan hal ini jarang disadari orang tua. Tidak banyak dari mereka yang menyadari bahwa semua itu karena mereka menyekolahkan anaknya di usia yang terlalu muda. Lebih banyak yang menyalahkan si anak itu sendiri dengan kata ‘malas’. Padahal anak itu sendiri justru bingung kenapa dia tiba-tiba ‘blank’.

Jadi saya kira, apalah salahnya ketuaan setahun dua masuk SD kalau hasil yang didapatkan di kemudian hari akan lebih baik, dari pada berbangga hati anak bisa ‘nabung umur’ tapi efeknya sangat mengecewakan dan sangat mempengaruhi masa depan anak.

Maka kalau ada anak di sekitar Anda yang mengalami masalah dalam belajar, coba ditanyakan lebih dulu, umur berapa dia dulu masuk SD. Lebih bijaksana lagi kalau Anda menyekolahkan anak Anda ketika dia benar-benar siap, mengikuti persyaratan SD negeri, pada usia 6 tahun.

–Wesiati Setyaningsih
(Seorang guru yang tinggal di Semarang)

Sumber:
http://baltyra.com/…/usia-masuk-sd-dan-pen…/comment-page-3/…

11692795_746562935456117_4456179592472529520_n

Persiapan Psikologis Si Kecil Masuk Sekolah

Saya termasuk jarang mengikuti seminar parenting maupun kesehatan. Kebanyakan modal saya adalah bahan bacaan dan browsing. Tapi sependek yang saya tahu biasanya seminar hanya mengambil satu sudut pandang saja, either parenting saja, atau kesehatan saja, atau finansial, relationship, dst.

Nah, kali ini dengan topik Persiapan Anak Masuk Sekolah, seminar ini mengusung sekaligus dua sudut pandang:

dari segi kesehatan dengan pembicara dr. Arifianto (dr. Apin), apa saja yang harus dipersiapkan orang tua sebelum anak masuk sekolah, dan
sisi psikologis kesiapan anak untuk bersekolah dengan pembicara psikolog Toge Aprilianto.

Pak Toge di awal seminar menyatakan bahwa dirinya memposisikan diri sebagai pengacara anak-anak, jadi anak-anak selalu benar dan orang tua selalu salah grin emotikon.

Menurut beliau, pertama kali pertanyakan lebih dahulu kepada masing-masing orang tua: “Anak sekolah untuk siapa?”
Untuk kebahagiaan orang tua atau kebahagiaan anak? Supaya anak belajar hal-hal yang kita tidak mumpuni untuk mengajarkan sendiri pada mereka, atau supaya orang tua punya me-time?

“Sekolah itu perlu, bukan harus. Yang perlu adalah orang tua, bukan anak. Karena orang tua perlu bantuan dalam mengajarkan berbagai macam hal yang tidak dikuasainya kepada anak.”

Jadi fokuslah pada apa yang dibutuhkan anak, bukan orang tua. Dari sini, sekolah dikatakan OK bila dengan bersekolah memberi manfaat untuk anak.

Pastikan juga kita memilih sekolah dengan guru-guru, bukan juru-juru.
Apa bedanya? Juru menginstruksi dan memacu, tanpa mengindahkan kebutuhan dan kemampuan anak. Guru memberdayakan dan membangun kemampuan yang ada pada anak dengan optimal. Hati-hati, juru bisa membuat anak jadi mogok sekolah, ditingkatan manapun. Sementara guru pasti akan dicintai murid dan mata pelajarannya biasanya akan jadi favorit. Guru akan memahami bila anak kita maunya mengerjakan tugas sambil duduk di lantai misalnya, karena dengan begitu anak lebih enjoy dan tugas selesai dengan baik ketimbang dipaksa duduk manis di kursi tapi karena gelisah malah tugasnya amburadul.

Pak Toge mempunyai tahapan alur pengasuhan yang didasarkan pada kemampuan mental anak, tanpa memandang umurnya. Atau mungkin lebih tepat dikatakan ‘umur mental’. Mirip seperti milestone, tapi secara psikologis. Tahap-tahap RUASDITO (Rute ASuh DIdik ala TOge) ini adalah:

*Membangun rutinitas.

Sedini mungkin anak diperkenalkan pada rutinitas. Dengan adanya rutinitas, anak tahu what to expect sehari-harinya. Misalnya bangun tidur ada yang mandi dulu, tapi ada yang sarapan dulu baru mandi. Jadi saat anak bangun tidur, dia akan siap mandi atau makan dahulu tergantung kebiasaan yang dibangun.

*Sanggup (mau dan mampu) kecewa secara aman-nyaman.

Poin ini berhubungan dengan poin pertama karena saat rutinitas harus terputus atau tertunda, misalnya kondisi khusus, sedang traveling, atau transisi ke perubahan rutinitas, akan ada masa adaptasi. Masa adaptasi ini berbeda-beda tiap anak (baca: orang). Kemampuan berubah ini melalui proses ‘kekecewaan’ terlebih dahulu, sampai kemudian bisa beradaptasi. Istilah sekarang, bisa move on grin emotikon.
Nah, tidak semua orang bisa move on dengan aman dan nyaman, menjalani transisi perubahan dengan smooth dan tanpa (seminimal mungkin) drama. Anak tantrum karena perubahan? Itu biasa. Orang ‘dewasa’ juga banyak yang masih tantrum, kan, dengan perubahan? *wink*.

Poin ini fokus bagaimana memfasilitasi anak belajar menjalani perubahan. Misalnya anak yang tadinya tantrum dengan agresif, menyakiti orang lain atau merusak sekitar, belajar untuk menyalurkan kemarahan melalui media lain yang aman. Misal untuk anak yang lebih besar, ‘menggambar’ atau ‘menulis’ kemarahannya. Berteriak atau menangis juga boleh, lho. Pak Toge justru melarang untuk menahan kemarahan, karena malah akan berujung ledakan emosi yang bisa lebih parah akibatnya.

*Sanggup bersepakat
(‘dagang’: dari pembeli-penjual sampai jadi rekanan).

Beberapa perubahan yang terkait poin kedua, berhubungan dengan orang lain. Misalnya anak yang sedang asyik main, tiba-tiba disuruh makan atau mandi. Ini merusak ‘kerutinan’, lho. Adakah yang dalam kondisi ini si anak langsung patuh menghentikan aktivitasnya lalu melaksanakan suruhan kita dengan patuh tanpa drama? Salah satu anak saya ada yang agak ‘tantrum-proof’, yang ada malah saya khawatir kelak dia akan mudah terpengaruh oleh orang lain, terlebih yang negatif. Nah, di titik ini anak belajar bagaimana bernegoisasi.
‘Pembeli-penjual’ adalah situasi dimana anak yang tadinya sedang main disuruh mandi lalu ngambek, kita tawarkan kompensasi atas permintaan kita. Misalnya kesepakatan untuk mandi kompensasinya bisa kembali bermain lebih lama atau kita tawarkan sesuatu yang menjadi keinginannya. Makin ‘mahal’ permintaan kita (yang lebih besar kemungkinan ditolaknya :D) makin mahal juga tawaran kompensasi kita. Boleh juga, lho, kita menawarkan pada anak untuk menentukan sendiri kompensasi apa yang diinginkan. Bila kompensasi yang diminta terlalu mahal, kita berhak menawar dengan yang lebih murah. Saat anak bisa yang menentukan kompensasi yang sesuai dan saling bersepakat, saat itulah dia bisa menjadi ‘rekanan’.

Catatan: untuk anak yang masih kecil, pastikan kompensasi yang ditawarkan bersifat riil, ya. Menerangkan bahwa suntik imunisasi itu perlu supaya daya tahan tubuh bagus memerlukan kemampuan abstract thinking yang belum dicapai maksimal di usia pra-sekolah.

*Sanggup berjuang.

Level ini adalah titik dimana anak sanggup menjalani yang ‘nggak enak’ untuk memperoleh yang ‘enak’, lebih bagus lagi kalau bisa menjalani yang nggak enak untuk sesuatu yang ‘perlu’. Pada dasarnya orang hanya tahu yang enak, apalagi anak-anak. Masih susah menjalani yang nggak enak, walau dapat kompensasi enak.
Contoh paling mudah nggak enak vs enak misalnya bantu cuci piring vs dapat ‘gaji’, sedangkan nggak enak vs perlu misalnya suntik imunisasi vs imunitas. Karena inilah dagang dengan anak harus pandai mencari celah mana yang ‘enak’ untuk anak sebagai penawaran. Anak lebih susah memaknai ‘perlu’ ketimbang ‘enak’. Otomatis tawaran berbasis ‘perlu’ akan lebih susah disepakati oleh anak.

*Sanggup membuat keputusan mandiri secara rasional.

Bila anak sudah lulus empat poin diatas, diharapkan anak sudah bisa menimbang keputusan dan tindakan tidak hanya dari sisi ‘enak’, tapi dari sisi ‘perlu’ juga. Di level ini orang tua sudah tinggal mengikuti dari belakang, memantau saja keputusan yang diambil anak.
Menjadi dewasa (sanggup berpikir-belajar-peduli).
Setelah melalui tahap sanggup membuat keputusan mandiri, anak diajarkan juga apa konsekuensi dari keputusannya baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Belajar berempati. Bila sudah lulus tahap ini secara mental anak bisa dikatakan dewasa.
Keenam poin ini saling berurutan. Idealnya ‘lulus’ yang satu dulu baru masuk ke tahap berikutnya.

Sepanjang ini dan belum membahas tentang kesiapan sekolah? Sebenarnya sudah grin emotikon.

Oleh pemerintah kesiapan sekolah dinilai dengan usia, padahal ‘usia mental’ masing-masing anak bisa berbeda-beda. Menurut RUASDITO, kesiapan sekolah adalah saat anak sudah bisa masuk level ke-4, karena sekolah bagi beberapa anak termasuk sesuatu yang nggak enak. Nggak enak harus bangun dan mandi pagi setiap hari sekolah, nggak enak harus mengikuti aturan, tidak bisa bermain seenaknya seperti di rumah, dst.

Bila anak belum bisa menyukai kegiatan bersekolah, memilih bekal tidak seru, baju seragamnya tidak keren, teman-temannya nggak asyik, gurunya dibilang galak, dan proses bersepakat juga tidak berhasil, mungkin anak memang belum siap untuk sekolah. Kadang-kadang bersepakat berhasil untuk hari-hari pertama sekolah, tapi seterusnya memerlukan daya juang si anak untuk bisa konsisten bersekolah. Lingkungan sekolah juga harus mendukung. Kalau anak sering di-bully oleh temannya, guru tidak merespon keluhannya atau lebih memihak pem-bully, anak juga bisa jadi mogok sekolah.

Jadi, selain memastikan anak siap sekolah, pastikan juga sekolah siap menerima anak smile emotikon

Sudahkah anak dan sekolahnya siap memulai belajar-mengajar?

–Kirana21

sumber: http://mommiesdaily.com/…/seminar-toa-persiapan-psikologi…/…

7 Perilaku Yang Akan Dicontoh Anak Anda

Jika ada satu hal yang saya pelajari dari lebih dari sepuluh tahun menjadi ayah, aadalah bahwa saya sedang diawasi setiap hari. Bukan saja sedang diawasi, tapi anak-anak saya juga mendengarkan kata-kata saya katakan. Mereka melihat saya untuk mencari tanda-tanda. Setiap keputusan yang saya buat, setiap kata saya berbicara, setiap langkah dan tindakan yang saya ambil, berada di bawah observasi. Anak-anak saya belajar hidup dari saya. Itu tanggung jawab besar.

Beberapa minggu yang lalu saya teringat ini. Kami tinggal di sebuah rumah liburan di Florida dan saat itu saudah larut malam. Saya dan istri saya sedang duduk di salah satu kamar tidur, di mana salah satu dari anak-anak kami tertidur (atau itu yang kami pikir). Kami sedang berkeluh kesah tentang satu anak kami yang lain, tiba-tiba kami mendengar suara kecil menirukan apa yang saya ucapkan. Kedengarannya menakutkan ketika keluh kesah itu diucapkan oleh anak berusia enam tahun.

Anak-anak saya belajar saya. Ini sebuah fakta. Dan mereka akan menyalin perilaku saya, apakah itu positif atau negatif, penuh dengan integritas, atau hanya asal-asalan.

Berikut adalah 7 perilaku anak-anak anda, juga saya akan belajar dari kita:

1. Bagaimana Anda memperlakukan ibu mereka.

Jika Anda baik hati, berbagi, memberi, mendukung, peduli, dan memperlakukan istri Anda dengan hormat dan bermartabat, anak-anak Anda akan memperlakukan istri Anda dengan hormat dan bermartabat. Tapi jika Anda merendahkan, agresif, frustrasi, atau kasar padanya, Anda bisa yakin anak-anak Anda akan memperlakukannya dengan cara yang sama.

2. Bagaimana Anda mengelola uang Anda.

Jika Anda berada dalam utang besar, atau menghabiskan uang dengan sembrono, anak-anak Anda akan menghabiskan uang sembrono, dan mereka akan membawa sifat boros hingga masa dewasa mereka. Mereka akan menyalin kurangnya tanggung jawab yang sama mereka melihat di dalam orang tuanya. Mereka juga akan hidup dalam utang. Tetapi jika Anda melatih kebijaksanaan, memperketat anggaran, menabung dan membuat rencana keuangan, mereka akan melakukan hal yang sama.

3. Bagaimana Anda memperlakukan orang lain.

Jika Anda selalu menggunakan orang untuk keuntungan Anda sendiri, atau terus-menerus meremehkan atau memperlakukan orang-orang yang berhubungan dengan anda, maka demikian juga anak-anak Anda. Jika Anda memperlakukan pembantu rumah tangga atau tukang parkir seperti pekerjaan hina, mereka akan mendevaluasi orang dengan cara yang sama. Tetapi jika pendekatan Anda untuk orang lain, terutama mereka yang melakukan jasa seperti pelayan, dengan baik dan hormat, anak-anak Anda akan mengikuti.

4. Rasa hormat yang Anda berikan kepada otoritas.

Jika Anda kasar atau menggerutu saat ada seorang petugas polisi yang menepikan anda untuk pemeriksaan surat-surat, atau kata-kata kasar dan selalu mengomel tentang betapa buruknya bos Anda, anak Anda akan tumbuh dengan kurang rasa hormat untuk figur otoritas dalam hidup mereka. Dan itu termasuk Anda! Tapi mendengar Anda berbicara tentang bos Anda dengan kebaikan dan rasa hormat, bahkan ketika mereka mungkin tidak layak mendapatkannya, membentuk pandangan kecil mereka tentang otoritas dalam cara yang sangat positif.

5. kedalaman karakter dan integritas Anda ditampilkan.

Mereka tahu jika Anda menipu. Mereka tahu jika Anda mengatakan tidak untuk satu hal dan kemudian melakukan lagi. Mereka mendengarkan cara Anda berbicara tentang orang-orang yang Anda temui di depan umum, atau tetangga frustasi yang menjengkelkan anda. Ketika Anda menghadapi krisis atau tuduhan yang tidak adil mereka memperhatikan bagaimana Anda merespon. Level karakter atau integritas yang anda pilih untuk dijalankan dalam hidup akan terbawa jauh ke masa depan hidup anak-anak.

6. Ukuran disiplin Anda dalam menjalani hidup.

Jika Anda makan terlalu banyak, menghamburkan uang, tidur terlalu banyak, membuang makanan, membiarkan rumah berantakan, selalu mengambil jalan pintas, atau membuat alasan untuk pilihan yang buruk, coba tebak? Demikian pula anak-anak Anda! Namun, jika Anda memilih untuk hidup disiplin, anak-anak Anda akan membuat pilihan yang lebih baik (dan sehat) dengan hidup mereka!

7. Bagaimana kebaikan hati anda.

Jika memberi untuk amal, atau terlibat dalam acara sosial tidak termasuk prioritas dalam daftar Anda, itu tidak akan berada dalam prioritas di anak-anak Anda juga.
Jika Anda memilih untuk tidak melayani, anak Anda juga akan demikian. Jika Anda mendaftar untuk tujuan baik dan kemudian mengendur ketika Anda berpartisipasi dan memilih untuk tidak memberikan usaha yang kuat, mereka akan melihat itu, dan melakukan hal yang sama.
Tetapi jika mereka menyaksikan orang yang dengan semangat memberi, selalu berbagi dengan mereka dengan kekurangan, dan memberikan dari hati yang penuh, mereka akan meniru perilaku itu dan menjadi orang yang memberi, mencintai, dan melayani dengan hati penuh!


Ini adalah daftar pendek yang bisa saya tulis. Jika Anda merasa buruk dalam beberapa hal, Anda tidak sendirian. Saya merasa buruk di beberapa juga.
Sudah waktunya untuk memperbaiki.
Keinginan hati saya adalah untuk membesarkan anak-anak yang menjadi sehat, produktif, orang dengan karakter yang kuat dan integritas.
Saya percaya hal-hal itu bukan hasil kebetulan
Saya harus proaktif dan bergerak ke arah itu dengan perilaku saya sendiri, sebagai orang dewasa, sebelum saya bisa mengharapkan anak-anak saya untuk bergerak ke arah mereka sendiri.
Bagaimana dengan anda?

–Mike Berry

sumber:
https://www.yahoo.com/…/7-behaviors-you-children-will-learn…11755802_749791425133268_79665611610996480_n