Arsip

Rusa yang Ingin Meminjam Terigu

Sang Rusa ingin meminjam segenggam terigu dari sang Domba

Suatu hari, seekor rusa jantan mengunjungi seekor domba dan meminta agar domba tersebut meminjamkan segenggam terigu. Sang Domba kurang yakin terhadap kejujuran sang Rusa dan takut bahwa sang Rusa akan menjadi sulit untuk di kejar apabila sang Rusa lari saat ditagih. Karena itu ia lalu bertanya, apakah sang Rusa mengenal hewan lain yang bisa menjamin kejujuran sang Rusa.

Ya, ya,” kata sang Rusa dengan yakinnya. “Sang Serigala bisa menjamin kejujuran saya.”

“Serigala!” kata sang Domba yang terkejut.

“Apakah kamu berpikir bahwa saya akan percaya dengan jaminan seperti itu? Saya mengenal sang Serigala! Dia mengambil semua yang dia maudan kemudian lari tanpa membayar. Kamu juga mungkin seperti dia, kamu dapat berlari dengan kencang sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk menagih hutangmu!”

Kata-kata dari orang jahat, tidak dapat dijadikan jaminan.

Iklan

Pria yang Menangis Sedih

Pria yang menangis sedih dan menyesali perbuatannya di masa lalu

Seorang pengembara, bertemu dengan seorang pria lain yang sedang menangis sedih.

“Apa yang kamu tangisi?” katanya.

“Saya menangis karena menyesali perbuatan-perbuatanku yang buruk di masa lalu,” kata pria yang menangis.

“Kamu sepertinya kurang kerjaan, lupakanlah masa lalumu dan mulailah hidup yang lebih baik.” kata si Pengembara.

Beberapa hari kemudian, mereka bertemu kembali. Pria yang menangis beberapa hari lalu, masih ditemukan menangis sedih.

“Apa yang kamu tangisi sekarang?” kata si Pengembara.

“Saya menangis karena tidak memiliki apa-apa untuk saya makan.” kata pria yang menangis.

“Saya sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi padamu.” kata si Pengembara.

Selalulah berusaha untuk hidup lebih baik dibandingkan masa lalu

Murid Nakal, Kepala Sekolah dan Pemilik Kebun

Kepala sekolah menasehati murid yang nakal sementara murid lain memanjat pohon apel

Seorang murid sekolah yang sangat nakal dan sering membolos dari sekolah, suatu saat berencana untuk mengambil dan memetik buah-buahan dari suatu kebun tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Pemilik kebun ini, di setiap musim panen, selalu membanggakan hasil panennya yang sangat baik. Pada musim semi, dia bisa menunjukkan bunga-bunga yang mekar pada pohonnya dan di musim gugur dia bisa memetik apelnya yang telah ranum.

Suatu hari, pemilik kebun ini melihat murid sekolah ini dengan sembarangan memanjat pohon buah dan menjatuhkan buah-buahan yang telah masak maupun belum masak. Murid nakal ini bahkan mematahkan dahan-dahan pohon, dan melakukan begitu banyak kerusakan sehingga pemilik kebun ini mengirimkan laporan berisikan keluhan kepada kepala sekolah di mana anak tersebut bersekolah. Kepala sekolah ini datang segera ke kebun tersebut dan membawa murid-murid yang lain di belakangnya. Kepala sekolah ini ingin memarahi dan menghukum murid nakal tersebut dan memberikan contoh kepada murid lainnya bahwa setiap perbuatan yang nakal, akan mendapatkan hukuman. Tetapi apa yang terjadi? rencana kepala sekolah tersebut menjadi berantakan dan malah memperparah keadaan, karena saat murid-murid yang lain melihat pohon apel yang telah ranum, mereka langsung menyerbu ke kebun dan memanjat pohon serta memetik buah apel dari pohon.

Tindakan yang dianggap bijaksana, belum tentu bijak.

Dua Orang yang Memperebutkan Bayangan Keledai

Pemilik keledai bertengkar dengan pengembara yang menyewa keledainya

Seorang pengembara menyewa seekor keledai untuk membawanya ke suatu tempat yang jauh. Pemilik keledai itu juga ikut pergi beserta pengembara itu, berjalan di sampingnya untuk menuntun sang Keledai dan menunjukkan jalan.

Jalan menuju tempat yang di tuju adalah jalan yang tandus di mana tidak ada sebatang pohon pun yang tumbuh di sepanjang jalan. Karena matahari bersinar sangat terik, pengembara itu akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat, dan karena tidak ada tempat untuk berteduh dapat ditemukan di tempat itu, pengembara itu lalu duduk di bawah bayang-bayang sang Keledai.

Sekarang panas matahari juga telah mempengaruhi si pemilik keledai, sehingga pemilik keledai tersebut juga berharap untuk bisa beristirahat di bawah naungan bayangan sang Keledai, ia mulai bertengkar dengan pengembara dan mengatakan bahwa pengembara itu hanya menyewa keledainya, dan tidak termasuk bayangan dari sang Keledai.

Tidak lama kemudian, mereka saling berkelahi tanpa menyadari bahwa sang Keledai berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

Karena bertengkar memperebutkan sesuatu yang tidak nyata, kita kadang kehilangan harta yang paling utama.

Murid Nakal, Kepala Sekolah dan Pemilik Kebun

Kepala sekolah menasehati murid yang nakal sementara murid lain memanjat pohon apel

Seorang murid sekolah yang sangat nakal dan sering membolos dari sekolah, suatu saat berencana untuk mengambil dan memetik buah-buahan dari suatu kebun tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Pemilik kebun ini, di setiap musim panen, selalu membanggakan hasil panennya yang sangat baik. Pada musim semi, dia bisa menunjukkan bunga-bunga yang mekar pada pohonnya dan di musim gugur dia bisa memetik apelnya yang telah ranum.

Suatu hari, pemilik kebun ini melihat murid sekolah ini dengan sembarangan memanjat pohon buah dan menjatuhkan buah-buahan yang telah masak maupun belum masak. Murid nakal ini bahkan mematahkan dahan-dahan pohon, dan melakukan begitu banyak kerusakan sehingga pemilik kebun ini mengirimkan laporan berisikan keluhan kepada kepala sekolah di mana anak tersebut bersekolah. Kepala sekolah ini datang segera ke kebun tersebut dan membawa murid-murid yang lain di belakangnya. Kepala sekolah ini ingin memarahi dan menghukum murid nakal tersebut dan memberikan contoh kepada murid lainnya bahwa setiap perbuatan yang nakal, akan mendapatkan hukuman. Tetapi apa yang terjadi? rencana kepala sekolah tersebut menjadi berantakan dan malah memperparah keadaan, karena saat murid-murid yang lain melihat pohon apel yang telah ranum, mereka langsung menyerbu ke kebun dan memanjat pohon serta memetik buah apel dari pohon.

Tindakan yang dianggap bijaksana, belum tentu bijak.

Rusa dan Anak Rusa

Rusa jantan

Seekor anak rusa bertanya kepada ayahnya: “Ayah lebih besar, lebih kuat, dan lebih lincah daripada seekor anjing, dan ayah memiliki tanduk yang tajam. Tetapi mengapa Ayah selalu lari menghindar saat mendengar gonggongan anjing?”

“Anakku,” kata sang Rusa, “Sifat amarahku tidak menentu, dan bisa saja saat saya berdekatan dengan anjing yang ribut menggonggong itu, saya akan kehilangan kesabaran dan mungkin saja saya akan melukai anjing tersebut.”

Lebih baik menghindari semua masalah yang bisa terjadi.

Kelinci dan Anjing Pemburu

Gembala mengejek sang Anjing yang tidak mampu mengejar sang Kelinci

Seekor anjing pemburu yang mengejar-ngejar seekor kelinci, dan setelah beberapa lama, sang Anjing menyerah dan menghentikan pengejarannya. Kebetulan kejadian itu disaksikan oleh seorang gembala yang langsung mengejek sang Anjing dan berkata:

“Hewan yang lebih kecil ternyata larinya lebih kencang dibandingkan dengan kamu,”

Sang Anjing menjawab, “Tidakkah kamu melihat perbedaan di antara kami? Saya berlari untuk mendapatkan makanan, sedangkan sang Kelinci berlari untuk mempertahankan hidupnya.”

Keinginan menentukan kerasnya suatu usaha.