Saya Menolak Untuk Membesarkan Seorang Tukang Bully

‘SAYA MENOLAK UNTUK MEMBESARKAN SEORANG TUKANG BULLY’

“Apakah kau lebih suka anakmu menjadi pembully atau dibully?” Teman saya bertanya beberapa tahun yang lalu, ketika anak-anak kami masih memakai popok.

Kami tumbuh dan saling bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan semacam ini – sambil tiduran di kamar tidur anak-anak saya, kami memperdebatkan pertanyaan dari rubrik “Apa Yang Kau Pilih” yang dicetak di majalah YM bulan itu – tapi sekarang anak kami sudah lebih besar. Dan pertanyaan “Apa Yang Kau Pilih” memiliki beban tersendiri.

Teman saya lebih suka anaknya menjadi tukang bully. Dia tidak sanggup memikirkan seseorang menyakiti anak kesayangannya, yang saya mengerti alasannya. Namun saya tidak bisa setuju dengan dia.
Saya tidak ingin memikirkan anak saya terluka, tapi apa artinya jika ia adalah pembully? Jika dia mengeluarkan kemarahannya pada anak yang tidak bersalah, dan sengaja menyakiti anak lain? Apa yang akan dikatakan tentang sakit nya? Karakternya? Ketidakamanan nya? Bagaimana rasa bersalah dan masalah-masalah yang mungkin akan ia miliki saat menjadi orang dewasa? Jika anak saya dibully, di sisi lain, ia memiliki kesempatan untuk membuat dirinya lebih kuat dan lebih welas asih. Benar kan?

Saya tidak berhenti mencari jawaban. Terus memikirkan anak saya yang masih “segar”, dan kemungkinan dia berada di luar, di dunia besar tanpa saya adalah seperti membayangkan alam semesta alternatif.
Tanyakan pertanyaan itu sekarang – dia sudah berangkat ke TK saat saya mengetik ini, berinteraksi sendiri dengan 20an anak-anak lain – dan saya hanya dapat menutup telinga dengan jari dan berjalan pergi. Perasaan emosional saya meluap.

Namun, pertanyaan sederhana itu membuat sesuatu dalam diri saya tersentak. Itu membuat saya menyadari betapa kuat perasaan saya untuk tidak pernah membesarkan ia sebagai pembully .
Lebih dari itu, membesarkannya dengan cara yang membuat ide bullying cukup tidak masuk akal baginya , hingga dia akan turun tangan dan menghentikan perilaku jahat ini secara insting.

Karena saya menolak untuk membesarkan pembully.

***

Saya sedang duduk di dapur dengan anak saya umurnya lima tahun, dan ia menunjukkan kepada saya apa yang dia warnai di TK hari itu. Kami kira-kira sudah 35 hari dalam tahun ajaran sekolah, jadi saya sudah tahu bahwa pertanyaan “Jadi bagaimana harimu?” akan mengarahkan ke cerita yang tidak menyenangkan. Tapi sebaliknya, cerita yang baik keluar ketika saya tidak mengharapkannya mereka – seperti ketika dia akan tidur, atau saat saya menyiapkan makan malam.

Sekarang adalah salah satu dari saat itu.

“James hanya mencoret-coret di atas kertas ,” katanya. (Namanya bukan James, tapi mari kita memanggilnya James.Saya tahu James, sebenarnya.
Dia salah satu dari anak-anak unik penuh dengan kepribadian yang Anda tahu tidak akan dihargai sampai teman-teman sekelasnya melihanya kembali sebagai orang dewasa dan mereka bertanya-tanya apa yang terjadi padanya . Dia seorang kawan yang ‘out-of the box’, sedikit berbeda dari yang kebanyakan.)

“Oh ya?” saya bertanya. “Mungkin mencoret-coret adalah keahilannya.”

“Anak-anak di meja mengatakan padanya dia melakukan pekerjaan yang baik,” katanya.

Saya dipenuhi rasa bangga.

“Mereka mengatakan, ‘Warna yang bagus , James,'” ia mengucapkan kalimat terakhir dengan nada sarkastis. Lalu ia menutupkan tangannya ke mulutnya secara dramatis dan berteriak keas, “TAPI BOHONG!” dengan senyum di wajahnya.

Dan rasa bangga yang sebelumnya ada, mengilang ke dalam perut saya.

“Apakah kau mengatakan itu juga?” Tanya saya. Ia mengatakan tidak dengan cara yang membuat saya berpikir “ya,” dan saya bergegas untuk menjauhkan rasa bersalah dan “keharusan” untuk memberikan “waktu mendidik”.
Bahkan jika dia tidak bergabung, ia setidaknya hanya diam dan tertawa bersama. Dan itu tidak dapat diterima.
Saya menyadari bahwa bahkan anak-anak yang paling berempati sekalipun dapat terpengaruh oleh sekelompok anak yang cekikikan dengan harapan bahwa ia akan masuk ke dalam kelompok.

Jadi saya memutuskan untuk memberi “kuliah”.

Saya bertanya apakah ia melihat wajah James ketika itu terjadi. “Bagaimana menurutmu yang ia rasakan?”

“Bagaimana menurutmu James akan merasa jika ia melihat semua orang mengolok-oloknya?”

“Bagaimana perasaanmu jika anak-anak di meja berbisik-bisik dan tertawa tentang gambarmu?”

Pada titik ini ia tertangkap dan matanya mulai berputar. Desah “Aku tahu, aku tahu Mam.” akan mengikuti, saya tahu itu. Jadi saya ke seberang meja, menatap mata dan mengatakan satu-satunya hal yang mungkin ia ingat:

“Menurutmu apa yang akan Spiderman lakukan jika ia duduk di meja itu? Apakah menurutmu dia akan tinggal diam, atau ia akan berdiri untuk melawan tukang bully? ”

“Tukang bully?” Matanya terbelalak.

***

Saya memotong beberapa paprika untuk camilan anak-anak. Dua anak laki-laki tetangga berada di rumah saya, karena mereka selalu, dan aku tahu mereka akan lapar.

Tiba-tiba nama anak tetangga lain dibawa ke dalam percakapan. Saya mendengar kata-kata “idiot” dan “bodoh.”

“Itu bukan hal bagus untuk dikatakan tentang orang lain,” anak saya angkat bicara. “Apakah kau akan suka jika aku mengataimu begitu?”

“Aku tidak peduli,” temannya mengejek.

“Yah, mungkin kau akan. Kau harus mulai berpikir tentang hal itu.” Jawabnya.

Dan hati saya tersenyum.

–Michelle Horton

sumber:
http://www.babble.com/kid/i-refuse-to-raise-a-bully/

11873351_761749693937441_6311097417983213739_n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s