Nasionalisme Untuk Anak, Pentingkah?

Kejadian yang sedikit lucu terjadi saat saya masih aktif mengajar di kursus Bahasa Inggris dulu, ada anak kelas 1 SD bertanya pada saya kapan hari kemerdekaan Amerika Serikat. Saya memberinya jawaban, dan iseng-iseng saya bertanya, ” When is Indonesia’s Independence Day?”. Dan anak itu menggelengkan kepalanya, tidak tahu.
Saya tanya lagi, soal warna bendera Indonesia, dia bisa menjawab. Tapi beberapa pertanyaan lain seperti lambang negara, arti warna bendera dia tak bisa menjawab. Dan yang paling lucu, saat saya bertanya siapa presiden Indonesia, dia menjawab dengan yakin, “Obama, Miss!”
Saya tidak tahu apakah dia benar-benar tidak tahu siapa presiden Indonesia atau karena terpengaruh berita Pemilihan Umum di AS yang kala itu memang sedang dibahas di mana-mana.
Kasus yang hampir mirip diceritakan oleh seorang teman yang juga mengajar seorang murid yang bersekolah di sekolah Internasional. Teman saya bertanya pada murid kelas 3 SD itu, “Do you know Soeharto?” , si murid menjawab dengan santai “Sounds familiar.” Tapi lalu menggeleng, dan berkata tidak tahu nama itu.

Buat generasi yang lahir di era 80-90an, atau sebelumnya, upacara bendera, pelajaran tentang Pancasila, lambang negara, arti warna bendera jelas adalah sesuatu yang dianggap sebagai pengetahuan umum. Anak-anak yang lahir di generasi itu akan bisa menjawab dengan mudah apa arti warna merah dan putih di bendera negara, ada berapa jumlah sila Pancasila dan bagaimana bunyinya adalah sesuatu yang sudah “otomatis” ada di dalam otak, karena diulang-ulang dalam upacara bendera tiap hari Senin.
Bahkan sajak anak-anak pun ada yang bisa digunakan untuk belajar tentang bendera, masih ingat sajak ini?
“Minyak kayu putih digosok di kepala // bendera merah putih, bendera Indonesia.”

Tetapi generasi yang lahir setelah era reformasi banyak yang sudah tidak lagi mengenal apa lambang negara Indonesia, siapa presiden pertama Indonesia, apalagi jumlah provinsi yang ada di seluruh negeri ini. Akhir-akhir ini ada “fenomena” di banyak sekolah, terutama sekolah berlabel Internasional, pelajaran sejarah Indonesia dan kewarganegaraan bukan hal yang harus ada. Terlebih ada cara pandang dari sebagian orang tua yang menganggap 2 hal itu tidak perlu dan hanya menambah beban pelajaran anak.

Upacara bendera setiap Senin juga sudah jarang diadakan di banyak sekolah-sekolah khususnya sekolah swasta, karena dianggap hanya membuang waktu yang mestinya bisa digunakan untuk jam belajar.
Dari sinilah nasionalisme akan perlahan-lahan pudar dari generasi muda kita. Tidak lagi mencintai bangsanya sendiri, apalagi bangga.
Apa yang akan terjadi di masa depan bila hal ini terus-terusan di biarkan?

Yang bisa terjadi adalah generasi penerus yang kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia. Yang hanya berpikir bahwa berbahasa asing itu lebih keren dari pakai Bahasa Indonesia, yang mengolok-olok bangsanya sendiri tetapi tanpa sadar mencari penghidupan di Indonesia, yang akan diam saja saat ada pihak-pihak yang berusaha memecah belah persatuan. Itu hasil akhir dari generasi yang dibesarkan tanpa rasa nasionalisme.

Mengajarkan nasionalisme pada anak memang tidak melulu harus tentang upacara bendera, menyanyikan lagu-lagu nasional sepanjang waktu atau menghafal sila-sila Pancasila. Anak-anak adalah peniru ulung, tentu mereka lebih membutuhkan contoh daripada dicekoki dengan hafalan sila-sila beserta butir-butirnya.
Nasionalisme bisa dimulai dari rumah, dari keluarga. Dan yang terbaik adalah contoh dari orang tua mereka. Bila kita sebagai orang tua masih sering mengolok-olok negeri sendiri, maka anak-anak pun akan berpikir dan melakukan hal yang sama.

Mari menjadi orang tua yang aktif dan kreatif dalam menanamkan nasionalisme. Bila sekolah memang tidak mengajarkan pada anak tentang sejarah bangsa, ajak dia mencari tahu sendiri. Ada banyak buku anak-anak dan film yang bisa digunakan sebagai media pengenalan anak tentang sejarah bangsanya.

Ajak anak ke museum, ke tempat-tempat bersejarah, jelaskan dengan bahasa yang mereka pahami, pancing rasa ingin tahu mereka untuk belajar tentang itu. Tidak akan ada yang sia-sia dari belajar sejarah, apalagi sejarah bangsa sendiri.
Kita tanamkan benih nasionalisme sejak dini dalam jiwa anak-anak. Mereka akan tumbuh dengan rasa itu, semakin besar dan kuat. Kepada mereka kita percayakan masa depan Indonesia.
Kita bisa terus menjaga pesan Bung Karno,
“Kutitipkan bangsa dan negara ini kepadamu.”

–Vina Oct.
Tim School of Parenting

sumber gambar:
https://bossgahutagalung.files.wordpress.com/…/sang-merah-p…

11895975_765239796921764_2202167932339451940_n

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s