Finger Painting With Children

Melukis dengan jari selalu menjadi aktivitas menyenangkan. Kegiatan ini cocok bahkan bagi anak berusia satu tahun dan salah satu cara membuat mereka terbiasa dengan tekstur, seni, warna dan kreativitas.

Iklan

Membuat Mainan Playdough sendiri

Halo Ayah dan bunda, pernah mendengar playdough kan? atau jaman dulu sering disebut dengan Malam/Plasticine. Mainan ini selain menyenangkan ternyata juga bagus untuk melatih daya kreatifitas dan imajinasi anak. Anak-anak bebas membentuk apa saja yang ia inginkan.
Playdough ini sebetulnya sangat mudah sekali di cari dan harganya pun sangat terjangkau, akan tetapi demi keamanan untuk si buah hati alangkah baiknya ayah dan bunda membuat sendiri mainan ini di rumah.
Membuat Playdough sendiri sangatlah mudah dan tidak ribet, untuk bahan-bahannya pun juga sering kita jumpai.
   bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat Playdough/Malam/Plasticine
   adalah sebagai berikut:
  • 2 gelas tepung terigu.
  • 1 gelas garam halus.
  • 2-3 sdm minyak goreng/minyak zaitun.
  • 2 sdm maizena.
  • 1 gelas air.
  • pewarna makanan

 

  • masukkan tepung terigu, maizena, dan garam dalam 1 baskom. beri air sedikit demi sedikit, uleni sampai adonannya lembut dan seperti karet.
  • beri minyak,uleni lagi sampai benar-benar lembut.
  • bagi adonan menjadi beberapa bagian. masing-masing bagian diberi 1-2 tetes pewarna, uleni sampai tercampur rata.
  • simpan di tempat yang sejuk.

Bagaimana Cukup mudah bukan membuat Playdough sendiri? membuat

    mainan Playdough sendiri lebih aman daripada membeli playdough yang ada
    di toko-toko, karena kita tau bahan yang digunakan cenderung alami.

Semarakkan Hari Kemerdekaan

Menyemarakkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 71, saat ini kami menggelar aneka lomba yang sarat makna di sekolah seperti lomba bakiak, lomba oper bola.

Ada pun lomba pertama yaitu bakiak, Lomba ini melatih kerjasama antar anak dan soliditas dalam kelompok.

dan lomba kedua yaitu oper bola, lomba ini dilaksanakan oleh beberapa anak yang berjajar kebelakang.

Di hari kemerdekaan itu anak-anak berpakaian nuansa merah putih dan mereka tampak ceria serta bersemangat.

 

Usai perlombaan mereka juga menerima bingkisan menarik berisi makanan ringan dan minuman yang sehat. Tak pelak, senyum sumringah menghiasi rona ruman mereka.

DSCN0337.JPGDSCN0348.JPGDSCN0357.JPGDSCN0359.JPGDSCN0362.JPGDSCN0367.JPGDSCN0399.JPGDSCN0400.JPG

Meriahnya acara Wisuda PAUD PELANGI CITA

Wisuda adalah puncak dari kegiatan belajar bagi semua peserta didik yang sudah menempuh jenjang pendidikan tertentu. Begitu pula bagi anak-anak PAUD Pelangi Cita, juga tetap akfit dalam kegiatan wisuda bagi para siswa-siswinya.

Kegiatan wisuda tersebut berlangsung dengan sukses. Yang di meriahkan oleh ibu-ibu yang mewakili kehadiran dari orang tua anak-anak.

Sekali lagi meskipun acaranya tidak mewah, tapi melihat antusiasme anak-anak saya turut bangga. Sebagai penyelenggara turut haru melihat antusiasme dari pengelola dan guru-guru serta masyarakat yang turut membantu suksesnya acara tersebut.

Acara wisuda diawali dengan tampilan dari PG-A dan PG-B, berupa Dancing Butterfly. Tentu saja penampilan mereka mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari para hadirin sekalian. Selanjutnya sambutan dari Ketua Yayasan, ketua komite, dsb.

Setelah acara sambutan dilanjutkan dengan penampilan dari TK-A dan TK-B berupa tari LILIN.

dan penampilan PG-A dan PG-B berupa Tari Ayam

kini tiba waktunya memasuki acara puncak pada wisuda perdana PAUD Pelangi Cita, dan siswa-siswi PG-B serta TK-B naik ke atas panggung. Dan bersiap-siap untuk prosesi wisuda kita.

Sampai acara selesai, anak-anak dan para hadirin tetap antusias sehingga rencana wisuda kecil-kecilan tersebut dapat sukses dengan sempurna.

Setelah acara wisuda selesai, anak-anak bisa bermain disekitar kolam berenang, berenang dan berfoto.

Selamat jalan para wisudawan cilik, semoga di pendidikan selanjutnya kalian bisa mencapai keberhasilan yang gemilang!

Kegiatan Seni dan Kerajinan Tangan Anak Usia Dini

Kegiatan Seni dan Kerajinan Tangan Anak Usia Dini (PAUD). Aktivitas ini mengajak anak mengamati, meraba, mencium, menggunakan dan memperlakukan alat dan bahan untuk menghasilkan sesuatu.

Berikut ini beberapa contoh kegiatan seni dan kerajinan tangan yang bisa dilakukan oleh anak usia dini. Seni kerajinan tangan adalah salah satu komponen pembelajaran seni untuk anak usia dini.

  • Tema Idul fitri / Idul Fitri
  • Tema Independent day / Hari Kemerdekaan1
  • Tema My self / Badan ku20160825_125253.jpg
  • Tema Self higine / kebersihan diri
  • Tema Safety Habits / Keselamatan diriIMG01229-20150923-1057
  • Tema My family / keluarga ku20160921_105102 
  • Tema My home / Rumah ku20161013_121628
  • Tema Sea Animals / hewan laut
  • Tema Clothes / Baju
  • Tema Animals around you / hewan disekitarmu
  • Tema Plant / TumbuhanIMG_3587_副本
  • Tema Christmas / Natalimg_2848

 

 

Bertanya, Kecakapan Mendidik Di Abad 21

Misalkan sebuah toko memberikan diskon 17%, tetapi pembeli harus membayar pajak 15%. Saat kita berbelanja di toko itu dan boleh mengatur, kita ingin diskon atau pajak yang dihitung dahulu? Kita sebagai pembeli lebih untung jika dipajak dahulu baru didiskon, atau sebaliknya didiskon dahulu baru dipajak?

Melalui pertanyaan itu, pendidik menggiring dan merancang kerangka pembelajaran. Kemudian, melalui pertanyaan itu, pendidik memicu diskursus dan merawat budaya bernalar menuju pemahaman yang mendalam. Kecakapan mendidik melalui bertanya ini yang merupakan bekal utama guru dan orangtua di abad 21.

Di pengajaran yang tak berpusat pada anak, jika akan menjelaskan bagaimana mengalikan dua bilangan 26 x 43, maka langsung saja guru atau orangtua menitahkan prosedur mengalikan dua bilangan tersebut, sesuai dengan cara yang diajarkan oleh gurunya terdahulu. Anak harus mematuhi dan menuruti langkah demi langkah. Apa yang dikatakan guru dan orangtua dianggap sudah yang paling baik dan sempurna. Tak dipikirkan ada kemungkinan anak atau murid kita dapat menemukan cara mengalikan yang lebih cerdas. Cara mengajar di sekolah atau di rumah dengan cara ini memang terjadi dan kita kebanyakan hasil dari metode tersebut. Namun, ada cara lain mendidik, bukan dengan perintah atau pemaksaan, tetapi menggunakan cara bertanya.

Bukankah justru lebih cerdas jika anak kita menemukan sendiri cara mengalikan bilangan? Bukankah anak kita akan jauh lebih memahami sekaligus ingat pada algoritma perkalian jika menemukan atau membangunnya sendiri? Pengetahuan ilmiah seperti matematika bukanlah benda mati. Algoritma atau rumus di matematika perlu dikembangkan terus. Yang ada belum tentu yang terbaik.

Sekarang, tidak semua pertanyaan dapat digunakan untuk mengajar. Pertanyaan untuk menguji kemampuan sangat berbeda dengan pertanyaan untuk mendidik anak. Pertanyaan yang baik dalam mendidik mempunyai beberapa ciri.

Pertama, pertanyaan baik akan mengganggu kesetimbangan pemahaman. Pertanyaan baik akan menyadarkan bahwa masih ada miskonsepsi atau kekeliruan konsep yang kita percayai. Kesetimbangan kepercayaan kita pada pengetahuan yang kita tadinya sudah yakini akan terganggu oleh pertanyaan yang dirumuskan dengan baik. Pertanyaan baik sekaligus menegur sikap “merasa sok tahu” kita. Pertanyaan baik harus mampu menegur ketakaburan dan rutinitas manusia.

Piaget mengistilahkan keadaan saat manusia menyadari miskonsepsi sekaligus meragukan pengetahuan sebelumnya tersebut sebagai disequilibrium atau ketaksetimbangan. Dari ketaksetimbangan ini sesungguhnya belajar baru dapat efektif dan bermakna. Pada situasi tak setimbang ini, benak dan diri manusia akan haus sekaligus siap untuk membangun pemahaman baru.

Peluang proses penyetimbangan baru akan terbuka saat ada ketaksetimbangan. Dan, selanjutnya akan dapat dicapai taraf kesetimbangan pemahaman yang jauh lebih kokoh. Bukankah ciri seorang benar-benar paham sebuah konsep jika orang tersebut sudah menjelajah dan menyadari berbagai miskonsepsi yang mungkin terjadi?

Dibanding learning dan relearning, memang unlearning paling sulit. Mungkin manusia cenderung lebih meyakini pengetahuan yang pertama diserap, ketimbang menerima pengetahuan baru, apalagi yang acap berbeda atau bahkan bertolak-belakang dengan pengetahuan yang diyakini sebelumnya. Dan, agar unlearning ini berhasil perlu dibuat keadaan tak setimbang yang dipicu pertanyaan.

Oleh karenanya, program penyiapan guru dan orangtua perlu memberlatihkan kecakapan bertanya. Senjata dahsyat guru dan orangtua di masa kini hanyalah bertanya dan mendengar. Keahlian berceramah dan memerintah menjadi tak begitu utama lagi. Ceramah atau kotbah satu-arah sudah tak menarik lagi bagi generasi digital.

Peran pertanyaan bukan saja untuk menggiring pembangunan pemahaman, tetapi juga untuk mengoreksi anak yang mungkin keliru memahami sesuatu. Guru dan orangtua yang baik harus cakap merancang dan mengajukan rangkaian pertanyaan, agar anak sendiri menyadari bahwa dirinya keliru. Bukan dari mulut guru atau orangtua seharusnya yang menyatakan seorang anak keliru.

Misalnya, pada pertanyaan di awal esai ini, jika seorang siswa atau anak kita berpendapat bahwa menghitung pajak dahulu akan membuat diskon lebih besar, apa reaksi kita? Tentunya memang wajar intuisi kita berpendapat seperti itu. Walau ternyata tak benar. Justru di sini seni mengajar tersebut. Memanfaatkan pertanyaan untuk menuntun anak menemukan pemahaman.

Mengatakan, “Kamu salah!” pada anak tentu sangat mudah. Namun, apakah itu pendekatan yang berpusat pada anak? Betul bahwa guru dan orangtua harus mengoreksi, tetapi apakah caranya hanya dengan menghakimi seperti itu?

Satu alternatif pendekatan untuk mengoreksi anak yang salah tadi misalnya menggiring dengan pertanyaan: “Jika barang yang dibeli Rp 100, dengan cara membayar pajak dahulu, berapa yang harus kamu bayar?” Lalu, dapat dilanjutkan dengan pertanyaan susulan, “Sekarang, berapa yang harus kamu bayar jika diskonnya dihitung dahulu?” Dari situ, anak akan menyadari kekeliruannya sendiri dan anak menjadi memahami konsep yang lebih mendalam lagi. Anak akan ingat dan tanpa merasa dipermalukan atau dihina dianggap bodoh.

Kecakapan anak kita di kehidupan nyata nanti untuk menyadari dan mengakui kekeliruan demi menuju pemahaman yang lebih baik merupakan bekal pokok. Kata “keliru” idealnya tak keluar dari mulut pendidik, seperti guru atau orangtua.

Agar tercapai kesadaran itu, jika anak menjawab benar, guru/ortu perlu bertanya lagi, “Dari mana kamu dapat itu?” atau “Mengapa kamu yakin benar?” Sedang anak sendiri sebelum mengungkapkan jawabnya ke orang lain perlu bertanya ke diri sendiri terlebih dahulu, “Apakah jawaban ini masuk akal?” atau “Adakah cara lain untuk menemukan jawabnya?” Kebiasaan bertanya ke diri sendiri dan orang lain harus menjadi norma setiap warga di kelas dan anggota keluarga di rumah. Mendidik anak di era sekarang kita perlu cakap bertanya.

Jika anak menjawab benar, juga tak perlu memuji, apalagi dengan cara berlebihan, seperti: “Hebat!” atau “Luar biasa!” Menurut Teori Otak, idealnya memuji anak itu juga tak perlu, karena kepuasan paling mendasar dan berkesan justru yang dihasilkan diri sendiri. Murid sendiri yang harus merasa puas dengan jawabannya.

Jika murid sendiri yang meyakini bahwa jawabnya benar, karena berdasar nalarnya, ini akan memberi kepuasan tak ternilai bagi anak. Perasaan berguna, bernilai, dan berdaya dapat tumbuh pada anak di situasi seperti ini. Kepuasan menemukan jawab benar itu sudah merupakan kenikmatan tak ternilai, tak perlu dicemari oleh pujian eksternal atau artifisial dari kita, apalagi yang berlebihan dan tak sesuai kenyataan.

Reaksi guru yang netral seperti, “Terima kasih sudah mencoba menjawab,” sudahlah cukup. Fungsi pertanyaan dalam pembelajaran untuk melibatkan anak, bukan untuk menghakimi. Pertanyaan bukan untuk menentukan anak kita pandai atau bodoh. Maka, jika seorang anak sudah menjawab pertanyaan kita, itu sudah berhasil karena anak tersebut sudah terlibat. Khususnya, jika reluctant learner atau anak yang biasanya enggan aktif belajar tetapi telah mencoba menjawab, maka itu sudah keberhasilan pendidik. Berterima kasihlah pada anak tersebut. Bukan menghakimi jawabnya. Memperbaiki pemahamannya ada kesempatan lain.

Dengan memanfaatkan rangkaian pertanyaan, guru dan orangtua dapat menggiring proses pembelajaran dan anak menjadi subjek dalam keutuhan proses sosial belajar-mengajar tersebut. Sekarang tak begitu populer pendidik mendominasi dengan berceramah.

Cukup bertanya, mendengar, dengan tetap menunjukkan kepedulian, itulah mendidik di kehidupan masa kini. Guru dan orangtua keren dengan kecakapan dan sikap bersahaja seperti itu yang sesuai untuk merawat anak penghuni dunia tanpa batas di masa depan.

Lalu, siapkah guru berlatih teknik bertanya untuk mendidik? Maukah kita orangtua berlatih mendidik melalui bertanya? ***

–Iwan Pranoto
Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi. Sebelumnya, ia adalah guru besar Matematika di Institut Teknologi Bandung.
Tulisan ini adalah opini pribadi dan tidak mewakili lembaga.

sumber:
http://www.bincangedukasi.com/bertanya-kecakapan-mendidik-…/

1623704_737273269718417_3515671920297375814_n

Dear Parents; Jangan Katakan ” Ibu/ Ayah Tidak Bisa Menggambar “

Banyak orang tua yang menganggap membaca dan menulis sangat penting untuk anak, hingga mendaftarkan anak-anaknya ke kursus membaca dan menulis bahkan sebelum usia 5 tahun.
Tetapi sebenarnya ada aktivitas yang tak kalah penting dibanding membaca dan menulis, yaitu menggambar.
Ya, menggambar dan mewarnai sebenarnya adalah “ketrampilan” dasar anak dan sangat mereka sukai. Menggambar dan mewarnai pun punya manfaat besar bagi perkembangan anak.

Menggambar menumbuhkan keterampilan dan kepercayaan diri yang kreatif pada anak-anak.
Ada banyak aspek yang masuk ke dalam kemampuan menggambar. Kepercayaan diri adalah salah satunya.
Percaya bahwa Anda dapat menggambar serta menikmati aktivitas menggambar adalah hal yang sama pentingnya, bahkan LEBIH penting – dari teknik menggambar.

Pertama dan paling penting saran saya adalah untuk membantu anak Anda percaya pada dirinya (dalam seni khususnya, tetapi juga dalam dirinya secara umum) dan dan menikmati seni.

Bagaimana caranya? Berikut beberapa saran yang dapat Anda coba:

1. Jangan pernah merendahkan diri atau kemampuan menggambar Anda sendiri.

Apapun yang anda pikirkan tentang gambar anda, tunjukkan pada anak bahwa Anda memiliki kepercayaan diri dan percaya dirilah dengan kemampuan Anda.

Jika Anda duduk dan menggambar dan mencoret-coret di sampingnya (dan saya pikir Anda harus melakukannya sekali-sekali!), Jangan katakan, “Ibu/Ayah tidak bisa menggambar.”
Jika Anda tidak merasa bahwa anda dapat menggambar gajah dengan baik dan terlihat nyata, tidak apa-apa!
Atau, anda bisa menggambar gajah abstrak dalam warna-warna cerah. Atau hanya menggambar abstrak, itu cukup. Gambar Kotak , lingkaran, spiral,bunga, tanda pagar, huruf, dan apa pun yang Anda pikirkan. Nikmati proses itu. Terus gerakkan pensil Anda. Tapi jangan mengucapkan kata-kata, ” tidak bisa menggambar” di depan anak Anda. Anak-anak belajar lewat contoh.

2. Sadarlah tentang bagaimana Anda berbicara dengan anak Anda tentang gambar yang ia buat.

Jangan hanya mengatakan, “itu cukup bagus,” tapi berbicara tentang tanda yang iadia buat pada halaman atau warna yang ia gunakan atau mengatakan, “Wow! Kau benar-benar teliti membuatnya! ”
Biasanya saya meminta anak-anak untuk bercerita tentang karya seni mereka. Jika anak Anda alebih muda dari tiga tahun, dia mungkin belum bisa mengartikan apa yang ia gambar (sekali lagi “mungkin”), tapi saat ia semakin dekat ke umur empat, dia kemungkinan akan lmenggambar ebih banyak dan lebih rumit dengan cerita tentang karyanya.

3. Membuat seni menyenangkan dan bereksplorasi.

Di usia ini, utamakan tentang proses karya seni anak anda. Cobalah untuk tidak mengharapkan hasil tertentu melainkan mendorong dia untuk mengeksplorasi bahan-bahan seni (cat, krayon, pensil warna, spidol, dll), ide (besar / kecil, tema dari hidupnya, warna kontras), dan teknik (mencipratkan cat, melukis dengan jari, stempel, dll) dengan caranya sendiri. Memperkenalkan bahan baru dan teknik, tetapi juga membiarkan dia mengeksplorasi seni sendiri dengan caranya sendiri.

Selain memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi selama proyek yang Anda tetapkan baginya,coba untuk memiliki beberapa bahan-bahan seni yang dapat ia gunakan kapanpun dia suka. Bisa menyediakan satu kotak/ ruangan khusus dengan berbagai kuas, cat air, spons, cetakan, dll yang dapat ia pakai tanpa bantuan anda.

4. Jaga agar kegiatan seni anak anda sesuai untuk usianya dan tahap perkembangan.

Saya tidak berpikir untuk mengajar anak “cara menggambar” yang teratur pada usia tiga tahun. Anda dapat membimbingnya melalui sesekali latihan menggambar jika Anda suka. Tapi yang paling penting pada usia ini adalah untuk mendorong eksplorasi terbuka dari bahan-bahan seni, kepercayaan diri, dan kenikmatan dalam seni dan belajar.
Biarkan dia berjalan melalui tahap-tahap perkembangan yang normal dalam menggambar dan seni dengan kecepatannya sendiri.

Jika, ketika dia di umur yang lebih besar, dia mengungkapkan minat dalam menggambar dengan cara tertentu atau belajar teknik menggambar, Anda dapat mempertimbangkan kelas menggambar, atau buku untuknya. Tapi sebaiknya tidak melakukan itu di usia yang terlalu muda.

By the way, untuk menjaga proses eksplorasi seni dan usia yang tepat, saya akan menyarankan Anda untuk menghindari buku mewarnai dan worksheet menghubungkan titik-titik sebanyak mungkin.
Penekanan mereka pada gambar dari menghubungkan titik dan mewarnai di dalam garis tidak membantu untuk perkembangan kreativitasnya.
Anda tidak perlu menjadi terlalu ketat tentang hal itu, (anak saya mendapatkan buku mewarnai dan buku ativitas menggambar dari kado ulang tahunnya) tetapi anda tidak perlu membuat buku mewarnai bagian rutin dari kehidupan seni anak anda.

Bagaimana soal pelajaran seni dan kelas seni untuk anak-anak?
Saya mengatakan bahwa saya tidak menyarankan Anda untuk mengirim anak 3 tahun ikut kelas seni untuk belajar “cara menggambar.” Namun, kelas seni untuk anak-anak mungkin ide yang baik untuk alasan lainnya.

+.Kelas seni mungkin memberikan anak ide-ide dan petunjuk untuk kegiatan seni yang lebih dalam daripada di rumah..

+. Kelas seni dapat mengekspos anak Anda untuk bahan-bahan dan teknik seni.

+.Anda dan anak Anda mungkin menikmati aspek sosial dari kelas seni.

+. Kelas seni mungkin memberikan pengalaman seni yang lebih “berantakan” yang tidak ingin anda coba di rumah.

Jika Anda ingin mencoba kelas seni dengan anak-anak Anda, saya akan menyarankan mencari satu yang difokuskan pada usia yang tepat,kelas seni yang berorientasi pada proses daripada hasil.

Apakah Anda ingin meningkatkan keterampilan menggambar Anda sendiri?

Jika Anda ingin belajar cara menggambar lebih baik atau lebih percaya diri, pertimbangkan untuk mengambil kursus menggambar, yang berorientasi pada semua tingkat kemampuan menggambar.

Untuk penutup, saran saya adalah untuk fokus pada proses seni dan eksplorasi untuk anak anda, membangun rasa percaya dirinya, menjaga kesan bahwa seni menyenangkan, dan tidak pernah membiarkan dia mendengar Anda berkata, “Saya tidak bisa menggambar.”
Jika Anda ingin memilih kelas seni untuk anak Anda, pastikan anda memilih itu untuk alasan yang benar dan pastikan kelas itu sesuai untuk usianya dan tahap perkembangan nya.

Selamat bereksplorasi dengan buah hati anda!

referensi:
http://artfulparent.com/…/how-to-encourage-drawing-skills-c…

10407784_741707085941702_7414602110264067712_n